Rabu, 27 April 2011

Pengantar Antropologi

BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Ilmu antropologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari anthropos atau manusia, merupakan suatu integrasi dari beberapa ilmu yang masing-masing mempelajarai suatu complex masalah-msasalah khusus mengenai makhluk manusia. Proses integrasi tadi merupakan suatu proses perkembangan panjang yang dimulai sejak kira kira permulaan abad ke-19 yang lalu, dan brlangsung terus sampai sekarang ini juga

B. TUJUAN & MANFAAT

Tujuan dan manfaat mempelajari ilmu antropologi adalah
1. Dapat mengetahui pola prilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat secara Universal maupun pola prilaku manusia pada tiap-tiap masyarakat (suku bangsa)
2. Dapat mengetahui kedudukan serta peran yang harus kita lakukan
3. mendapat wawasan baru setelah membaca makalah ini.








BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Antropologi
Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.
Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.
Antropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal.
Ketidak akuratan pengertian sebagaimana pembagian diatas juga muncul karena dengan pengertian tersebut antropolgi dapat digabungkan denngan disiplin ilmu manusia lainnya seperti sosiologi, psikologi, ilmu politik, ekonomi, sejarah, biologi manusia, dan bahkan dapat digabungkan dengan disiplin humanistic seperti filsafat dan sastra.

Definisi Antropologi menurut para ahli
• William A. Havilland: Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
• David Hunter:Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
• Koentjaraningrat: Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Dengan, demikain antropologi merupakan hal yang mempelajari seluk-beluk yang terjadi dalam kehidupan manusia.Dapat dilihat dari perkembang pada masa saat ini, yang merupakan salah dari fenomena- fenomena yang terjadi ditengah- tengah masyarakat sekarang ini.
Macam-Macam Jenis Cabang Disiplin Ilmu Anak Turunan Antropologi :
A. Antropologi Fisik
1. Paleoantrologi adalah ilmu yang mempelajari asal usul manusia dan evolusi manusia dengan meneliti fosil-fosil.
2. Somatologi adalah ilmu yang mempelajari keberagaman ras manusia dengna mengamati ciri-ciri fisik.
B. Antropologi Budaya
1. Prehistori adalah ilmu yang mempelajari sejarah penyebaran dan perkembangan budaya manusia mengenal tulisan.
2. Etnolinguistik antrologi adalah ilmu yang mempelajari suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi.
3. Etnologi adalah ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia.
4. Etnopsikologi adalah ilmu yang mempelajari kepribadian bangsa serta peranan individu pada bangsa dalam proses perubahan adat istiadat dan nilai universal dengan berpegang pada konsep psikologi.
Di samping itu ada pula cabang ilmu antropologi terapan dan antropologi spesialisasi. Antropology spesialisasi contohnya seperti antropologi politik, antropologi kesehatan, antropologi ekonomi, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.
Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya
Antropologi berasal dari kata Yunani ???????? (baca: anthropos) yang berarti “manusia” atau “orang”, dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/ perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitan pada pendudukyang merupakan masyarakat tunggal.

B. Perkembangan Antropologi

Dalam arti tertentu, praktik antropologi dimulai begitu manusia mulai berfikir tentang masyarakat dan keyakinan-keyakinan mereka, dan secara sadar memutuskan untuk membandingan diri mereka sendiri dengan masyarakat-masyarakat lain yang melakukan kontak dengan mereka.

Ahli sejarah Yunani, Herodotus (484-425 SM) menghabiskan bertahun-tahun untuk melakukan perjalanan di Asia, Mesir dan Yunani, dan menuliskan gambaran terperinci tentang pakaian, panen, etiket dan ritual dari orang-orang yang ia jumpai. Ibn Khaldun (13326-1406) adalah seorang ahli politik dan sejarah yang tinggal beberapa tahun. Ia menghasilkan karya ilmiah yang menakjubkan, karena mengelompokkan orang-orang yang diamatinya menjadi dua kelompok masyarakat, yaitu suku Bedouin yang dianggap liar, nomaden serta agresif, dan masyarakt kota yang menetap, berpendidikan dan kadang-kadang korup, yang menggantungkan hidup mereka pada pertanian lokal.

Antropologi mengemuka setelah melewati serangkaian perkembangan yang kompleks, dan saat ini mencakup minat-minat dan bidang-bidang ilmu yang sangat beragam. Kita akan meninjau beberapa diantaranya untuk memahami bagaimana antropologi sampai saat pada perkembangannya saat ini.

Setidaknya sejak abad kelima belas, dengan dilengkapinya pe;ayaran-pelayaran besar untuk menemukan dan menaklukan wilayah baru, muncul berbagai perdebatan tentang sifat dan adat istiadat orang-orang biadab yang digambarkan oleh orang pelaut dan pedagang. Di akhir abad keenam belas sastrawan Perancis, Michael De Montaigne (1533-1529), memadukan pengetahuannya tentang karya-karya penulis klasik seperti Xenophon, Lucretius dan virgil dengan penjelajahan-penjelajahan dunia baru.

Selama zaman pertengahan, makhluk didunia dikelompokkan kedalam beberapa ordo yang statis, diciptakan oleh tuhan yang disebut rantai kehidupan (chain of being). Pada abad ketujuh belas dan delapan belas 'Rantai' tersebut kerat teramati dalam kondisi-kondisi yang lebih dinamis. Dengan demikian, kebudayaan dapat dianggap sebagai kemajuan, dengan masyarakat eropa sebagai titik puncak perkembangan, baik secara moral maupun cultural.

Antropologi menjadi sebuah subjek akademis yang berdiri sendiri pada abad kesembilan belas, sebagian besar memusatkan perhatian pada penelitian sifat-sifat fisik, bahasa dan budaya masyarakat yang belum beradab. Sir Edward Tylor menjadi dosen antropologi di Oxford pada tahun 1884, maka mulai disinilah antropologi dikembangkan diberbagai Negara. Hampir disepanjang abad kesembilan belas, status pasti antropologi mencakup segala hal, mulai dari mengukur bentuk dan ukuran kepala sampai mengumpulkan artefak untuk mengisi museum-museum dikota-kota yang kaitannya dengan sains, terutama zoology dan biologi.

Goerge Stocking, seorang ahli antropologi sejarah dari Amerika membedakan perilaku banyak warga Inggris Victoria dengan masyarakat non Eropa, secara jelas gambaran yang dimunculkan adalah gambaran seorang yang bukan saja terasing secara geografis, tapi juga kebalikan dari gambaran ideal dari seorang pria Victoria; berkulit putih, menarik bersih (sifat ini bisa dikatakan mendekati sifat saleh). Gagasan itu jelas menggambarkan evolusi budaya, sebuah gagasan yang berhasil menjadi sebuah teori dominan di abad kesembilan belas.

Gagasan ini didukung oleh hasil penelitian beberapa disiplin ilmu, bukti-bukti geologi menunjukan bahwa bumi lebih tua daripada yang diungkapkan oleh injil, sementara penemuan-penemuan arkeologi seperti peralatan yang ditemukan di tanah berlumpur Denmark dianggap mendukung teori yang menyatakan bahwa umat manusia telah melewati berturut-turut, zaman-zaman batu, perunggu, dan besi. Para ilmuwan mulai mencari penjelasan-penjelasan ilmiah dan bukan lagi penjelasan teologi untuk memahami perbedaan perkambangan antara Negara-negara dengan peradaban barat dengan masyrakat yang secara teknologi dan budaya dianggap lebih primitif.

Pada tahun 1896 ahli antropologi Franz Boas (1858-1942) menerbitkan sebuah makalah yang berjudul The Limitations Of The Comparative Method Of Anthropology. Dua kalimat terakhir dalam tulisannya mengatakan "sampai saat ini kita masih terlalu senang tingkah laku aneh yang cerdik. Kerja nyata masih didepan kita", yang ia maksud dengan kesenangan adalah kesenangan dari banyak ahli evolusi, yang menurut Boas, riset mereka pada hikikatnya rasis dan hanya ditunjang oleh sedikit bukti saja.

Banyak karya-karya Boas yang diterima oleh pakar antropologi lainnya, sehingga mereka melihat tanda-tanda awal perpecahan minat antara para ahli antropolgi Amerika dan Inggris. Pengikut Boas di Amerika, seperti ilmuwan A.L. Kroeber (1876-1960) dan R. Lowie (1883-1957) meneruskan dengan melakukan penelitian sejarah, sekaligus memusatkan perhatian pada analisis budaya.

Seperti halnya sosiologi, antropologi sebagai sebuah ilmu juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya.
Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:
Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)
Manusia dan kebudayaannya, sebagai bahan kajian Antropologi.
Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.
Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.
Fase Kedua (tahun 1800-an)
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggapbangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya
Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.
Fase Ketiga (awal abad ke-20)
Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.
Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)
Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.
Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.
Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.
Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.
C. Lahirnya Ilmu Antropologi
Antropologi adalah suatu ilmu sosial yang pemaparannya mengenai sejarah pembentukan antropologi tetap penting dibicarakan. Kebanyakan antropolog sependapat bahwa antropologi muncul sebagai suatu cabang keilmuan yang jelas batasannya pada sekitar pertengahan abad kesembilan belas, tatkala perhatian orang pada evolusi manusia berkembang. Setiap antropolog dan ahli sejarah memiliki alas an sendiri-sendiri untuk menetukan kapan antropologi dimulai. Dari sudut pandang "sejarah gagasan", tulisan-tulisan filsuf, dan peziarah Yunani, sejarawan Arab kuno, peziarah Eropa kuno, maupun masa renaisans, dan filsuf, ahli hukum, ilmuwan berbagai bidang dari Eropa, semuanya bisa dianggap pendorong bagi dibangunnya tradisi antropologi.
Sebagai contoh, Alan Bernand (2000) berpendapat bahwa kelahiran antropologi adalah ketika konsep "kontrak sosial" lahir, dan persepsi mengenai hakikat manusia, masyarakat dan keanekaragaman kebudayaan tumbuh dari konsep "kontrak sosial" tersebut. Gagasan ini dalam beberapa hal adalah pelopor dalam teori evolusi.
Perdebatan pada abad ke 18 mengenai asal usul bahasa dan mengenai hubungan antara manusia dengan apa yang kita sebut primate yang lebih tinggi juga relevan, seperti halnya perdeatan pada abad ke 19 antara poligenis (keyakinan bahwa setiap 'ras' mempunyai asal usul terpisah) dan monogenis (keyakinan bahwa manusia memiliki asal usul keturunan yang sama, dari adam atau dari makhluk yang disebut dengan kera). Gagasan demikian itu tidak hanya penting sebagai fakta sejarah, tetapi juga karena gagasan itu membentuk persepsi antropologi modern mengenai dirinya sendiri.
Antropologi di Eropa pada abad ke 18 ditandai oleh tiga pertanyaan penting yang diajukan untuk pertama kali dalam bentuk modern selama masa pencerahan di Eropa. Pertanyaan itu adalah:
a. Siapa yang mendefenisikan manusia dalam bentuk abstrak?
b. Apa yang membedakan manusia dari binatang?
c. Dan apa kondisi alamiah dari manusia itu?
Dari pertanyaan itu maka munculah ilmuwan dan tokoh-tokoh dalam pengembangan kehidupan manusia, sehingga disebut dengan ilmu antropologi yang kita kenal sampai sekarang.
Antropologi pada abad ke 19 dan abad ke 20, berkembang dalam arah yang lebih sistematik dan menggunakan peralatan metedologi ilmiah. Persoalan paradigma menjadi semakin penting karena masih mempertanyakan pertanyaan–pertanyaan diatas. Dan samapi saat sekarang ini para ilmuwan dan tokoh-tokoh masih mengembangkan pemikiran mereka dalam dunia ilmu antropologi ini.
D. Tokoh-Tokoh Antropologi
Para tokoh antropologi dalam fase pertama dari perkembangannya sudah tentu belum ada, Karena pada waktu itu belum ada ilmu antropologi. Namun ada penjelasan tentang manusia dan kebudayaan suku-suku bangsa yang tinggal diluar benua Eropa. Para pengarang etnografi kuno ada dari berbagai golongan antara lain:
1. Golongan musafir adalah A. Bastian, seorang dokter kapal berbangsa jerman yang telah keliling ke berbagai benua pada permulaan abad ke-19. diantara catatan-catatan perjalanannya mengenai berbagai daerah tertentu di Afrika Barat, India. Cina, Australia, Kepulauan Osenia, Meksiko, dan Amerika latin. Ia pernah menulis tiga jilid etnografi mengenai kebudayaan suku-suku bangsa di Indonesia.
2. Golongan penyiar agama Nasrani sangat banyak jumlahnya, cukup disebut seorang saja sebagai contoh, ialah J.F. Lafitau, seorang pendeta agama Katolik bangsa perancis yang pernah berkerja di daerah sungai St. Lawrance (Amerika Utara dan Kanada Timur), sebagai penyiar agama dan menulis sebuah etnografi yang klasik (1724) tentang kebudayaan suku-suku bangsa India yang hidup didaerah sungai tersebut.
3. Golongan Eksplorasi adalah N.N. Miklukho-Maklai, seorang bangsa Rusia yang banyak mengenbara di daerah Oseania di Lautan Teduh, dan yang pernah mengunjungi Papua Nugini dan Irian Jaya.
4. Golongan pemerintah-pemerintah jajahan adalah T.S. Raffles, yang pernah menjabat sebagai Letnan Gubernur Jendral di Indonesia antara tahun 1811 dan 1815.
5. Tokoh dari sarjana antropologi pada abad ke-19 adalah L.H Morgan, seorang serjana hokum bangsa Amerika yang berkerja sebagai pengacara.
6. P.W. Schmidt, seorang serjana antropologi berbangsa Austria.
7. Tokoh sarjana antropologi dalam fase perkembangannya yang ketiga adalah B. Malinowski, yang telah menulis banyak buku antropologi.
8. Tokoh sarjana antropologi dalam fase perkembangannya yang keempat adalah F. Boas yang mula-mula adalah ahli geografi bangsa jerman, kemudian menjadi warga Negara Amerika, yang dianggap sebagai tokoh pendekar antropologi pada masa kejayaannya.
9. Ruth Benedict, Margaret Mead dan R. Linton adalah tokoh antropologi wanita yang lebih mengarah tentang antropologi psikologi.
10. A.R Radcliffe-Brown adalh tokoh antropologi yang mengembangkan teori-teori antropologi sinkronik yang kemudian menjadi sub ilmu antropologi social.
11. R. frith adalah tokoh yang menggunakan metode-metode antropologi dalam hal analisis, yang bisa disebut antropologi terapan.
Banyak sekali tokoh-tokoh yang berperan penting dalam dunia perkembangan ilmu antropologi, karena antropologi tidak hanya berkembang di Negara-negara Eropa saja, akan tetapi ilmu ini berkembang ke Negara-negara Asia, Afrika, Amerika dan lain sebagainya. Sehingga dengan berkembangnya ilmu ini di Negara-negara tersebut banyak tokoh-tokoh yang ikut campur dengan pemikiran-pemikiran mereka sehingga ilmu antropologi semakin lama semakin luas kajiannya.

E. Peran Antropologi Dalam pembangunan Indonesia
Antropologi mempelajari manusia dan segala aspeknya. Antropologi berperan memecahkan masalah manusia yang berkaitan dengan pembangunan. Antropologi dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk membuat kebijakan pada suatu permasalahan pada pembangunan Indonesia dan ikut serta dalam perencanaan program pemerintah.
Dalam buku Antropological Praxis: Translating Knowledge Into Action, Robert M. Wulff and Sherly J. Fiske yang diterbitkan pada tahun 1991 menyebutkan antropologi harus bekerja dalam seluruh tahap proyek pembangunan. Ada tahap yang harus dilakukan (Marzali: 2005).
Meneliti, cari dan menentukan kebutuhan masyarakat.
Memformulasikan kebijakan dan memilih alternatif solusi atas masalah yang dihadapi masyarakat. Merencanakan dan melaksanakan proyek sesuai dengan kebijakan dan rencana yang telah ditetapkan.
Perkembangan antropologi di Indonesia saat ini mengisyaratkan adanya dua hal
kecenderungan yaitu kecenderungan “kedalam” dan “kecenderungan keluar”. Manakah
yang baik untuk menjadi identitas antropologi yang khas Indonesia di masa depan?

Perkembangan antropologi Indonesia dimulai dengan penelitian adat-istiadat,sistem kepercayaan, struktur sosial dan kesenian dari suku-suku yang tersebar di seluruhwilayah nusantara sejak zaman penjajahan Belanda. Tulisan-tulisan tersebut digunakansebagai landasan kebijaksanaan pemerintah Kolonial. Pada awal tahun 1800an negara-negara Eropa Barat melakukkan kolonialisasi atas negara–negara Afrika, Asia danAmerika hal ini dikarenakan tujuan untuk 3 G (Gospel, Glory, Gold) dan yang palingpenting adalah mencari sumber-sumber daya alam baru khususnya rempah-rempah yangsangat dibutuhkan masyarakat eropa pada saat itu. Menurut pandangan orang Eropabangsa-bangsa yang dijajah masih primitif, buas dan sering dikatakan bangsa-bangsayang masih asli, yang belum mengalami perubahan dan kemajuan.
Pada pertengahan abad 19 banyak ditemukan tulisan mengenai aneka warnakebudayaan dan tingkat evolusinya. Deskripsi mengenai suku bangsa di luar Eropamerupakan kebudayaan yang masih tradisional dan merupakan sisa kebudayaan kuno.Pada awal abad ke 20 ilmu Antropologi mengalami kemajuan, ilmu Antropologidipergunakan oleh bangsa Eropa untuk mempelajari adat-istiadat dan keabiasaan bangsayang terjajah. Dengan meangetahui data tentang kebiasaan itu dapat dipergunaklan untukmempertahankan kolonialismenya di negara yang dijajah tersebut. Sesudah tahun 1930-an ilmu Antropologi mengalami perkembangan luar biasa, dipengaruhi oleh metodeilmiah dalammelakukan penelitian.
Ada pun beberapa tulisan tentang masyarakat dan kebudayaan bangsa Indonesiabanyak sekali ditulis oleh para pegawai dari negara yang menjajah Indonesia sepertihalnya Belanda dan Inggris. Penelitian dan pengamatan antropologi di Indonesia telah

ada sejak masa penjajahan atau era kolonialisme. Pada abad ke 19, T.J. Willer, pegawaipemerintahan dari Belanda menulis tentang masyarakat di Sumatera Utara, Riau,Kalimantan Barat dan Maluku. Pada waktu Bengkulu dijajah Inggris, kepalapemerintahannya, W. Marsden (1783), menulis tentang suku yang ada di Indonesia, yaituMinang Kabau, Rejang dan Lampung. Selain itu C. Snouck Hurgronje, seorang ilmuanberkebangsaan Belanda yang memberikan gambaran tentang Aceh. Dia meneliti tentangkehidupan masyarakat Aceh. Penelitian ini bermaksud untuk mengungkapkan rahasiasemangat juang masyarakat Aceh. Snouck sejak 1889 meneliti pranata islam dimasyarakat pribumi aceh. Ia mempelajari politik kolonial untuk memenangi pertempuranbelanda di aceh.
Perkembangan antropologi, baik di barat maupun di Indonesia saling berkaitanerat terhadap sejarah kolonialisme, dapat dilihat dari tulisan-tulisan yang mereka buat.Para pegawai kolonial jaman dulu wajib menulis laporan karakter masyarakat dan daerahyang mereka ambil sumber daya alamnya di daerah jajahan Belanda, yang mana daricatatan-catatan itu diberi nama etnologi, sebuah penggambaran watak khas masyarakat.Antropologi timbul dari adanya rasa ingin tahu dari manusia terhadap manusia lain. Rasaingin tahu itulah yang mendorong manusia mengadakan perjalanan ke daerah lain.
Pascakemerdekaan, antropologi menjadi kajian para intelektual di negeri sendiridengan didirikannya Jurusan Antropologi Universitas Indonesia, setengah abad lampau.Tepatnya, di akhir September 1957, kajian antropologi hadir sebagai jurusan dilingkungan Fakultas Sastra UI, diprakarsai Profesor Koentjaraningrat. Dia pula yangmendorong berdirinya jurusan antropologi di berbagai universitas negeri lainnya diIndonesia. Bedanya dengan masa kolonial, di era pascakemerdekaan antropologi lebihdimaksudkan menjadi semacam alat bagi kita untuk belajar melihat dan mengenal dirisendiri. Masalah mengenal diri sendiri bukan perkara mudah. Perlu upaya lebih berat dankeras bagi Indonesia dibandingkan bangsa-bangsa lain, mengingat Indonesiaberpenduduk sangat besar dan majemuk sehingga rentan disintegrasi. Itu semuamerupakan bagian dari pergulatan para antropolog. Terutama untuk menghadapitantangan yang kian berat dengan adanya permasalahan seperti multikuturalisme,kemiskinan struktural, korupsi tanpa henti, konflik-konflik kepentingan golongan,kesenjangan sosial ekonomi, ketidakpastian pelaksanaan hukum, dan jurang generasi.

Belum lagi fenomena global seperti liberalisasi ekonomi, seperti pada krisis ekonomiglobal yang melanda dunia dan berdampak kepada Indonesia sendiri memudarnyaideologi serta meningkatnya komunikasi lintas-batas negara serta budaya.
Keterkaitan antropologi di Indonesia dengan ideologi nasionalisme dan perjalanankapitalisme global berpengaruh besarterhadap teori sosial yang berkembang di antarapara ilmuwan lokal. Konservatisme teori juga diwarisi oleh rezim penjajahan. Sampaisekarang antropologi di Indonesia masih dipengaruhi oleh pemikiran kuno Belanda yangberusaha mencari struktur sosial dasar di mana semua masyarakat Indonesia dibayangkanmempunyai persamaan dalil regularitas padahal begitu banyak permasalahan-permasalahan yang ada di Indonesia dan harus mencari solusi akan permasalahan tersebut.
Melalui tangan Koentjaraningrat, salah seorang pendekar ilmu kebudayaanIndonesia, antropologi Indonesia menjadi alat penting untuk nasionalisme. Praktik-praktik kultural yang sangat bermacam-macam dilihat menurut sebuah standar yangmengukur sejauh mana kehidupan seseorang cocok dengan sebuah "kultur nasional" yangideal. Antropologi diberi tugas menggali "mentalitas budaya Indonesia" yang akandijadikan modal sosial untuk menyokong pembangunan.
Masyaraka Indonesia setelah reformasi adalah sebuah “masyarakat multikulturalIndonesia” dari tatanan kehidupan Orde Baru yang bercorak masyarakat majemuk.Sehingga, corak masyarakat Indonesia yang bhinneka tunggal ika bukan lagikeanekaragaman sukubangsaa dan kebudayaannya tetapi keanekaragaman kebudayaanyang ada dalam masyarakat Indonesia. Oleh karena itu upaya membangun Indonesiayang multikultural hanya mungkin dapat dilakukan dengan konsep multikulturalismemenyebar luas dan dipahami pentingnya bagi bangsa Indonesia, serta adanya keinginanbangsa Indonesia pada tingkat nasional maupun lokal untuk mengadopsi dan menjadipedoman hidupnya, selain itu kesamaan pemahaman mengenai makna multikulturalismedan bagunan konsep-konsep yang mendukungnya.
Multikulturalisme Adalah kebudayaan.
Pengertian kebudayaan harus dipersamakan atau setidak-tidaknya tidak dipertentangkan antara satu konsep yang satudengan lainnya.Karena multikulturalsime itu adalah sebuah ideologi dan sebuah alatatau wahana untuk meningkatkan derajat manusia dan kemanusiannya, maka konsep

kebudayaan harus dilihat dalam perspektif fungsinya bagi kehidupan manusia.Sayamelihat kebudayaan dalam perspektif tersebut dan karena itu melihat kebudayaan sebagaipedoman bagi kehidupan manusia. Yang juga harus kita perhatikan bersama untukkesamaan pendapat dan pemahaman adalah bagaimana kebudayaan itu operasionalmelalui pranata-pranata sosial. Multikulturalisme terserap dalam berbagai interaksi yangada dalam berbagai struktur kegiatan kehidupan manusia yang tercakup dalam kehidupansosial, kehidupan ekonomi dan bisnis, dan kehidupan politik, dan berbagai kegiatanlainnya di dalam masyarakat yang bersangkutanKajian-kajian mengenai corak kegiatan,yaitu hubungan antar-manusia dalam berbagai manajemen pengelolaan sumber-sumberdaya akan merupakan sumbangan yang penting dalam upaya mengembangkan danmemantapkan multikulturalisme dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, danbernegara bagi Indonesia.
Dengan demikian antropologi di Indonesia memiliki peran sebgai konseptual danteoretikal mampu untuk melakukan penelitian dan analisis atas gejala-gejala yangmenjadi ciri-ciri dari masyarakat majemuk yang telah selama ini. Selain itu kajian-kajianetnografi sangat dibutuhkan dalamperkembangan antropologi dewasa ini dan harusdisesuaikandengan upaya pembangunan masyarakat Indonesia menuju masyarakat yangmultikultural. Penelitian etnografi yang terfokus dan mendalam, yang akan mampumengungkap apa yang adai dibalik gejala-gejala yang dapat diamati dan didengarkan, danyang akan mampu menghasilkan sebuah kesimpulan dalam mendukung pembangunanyang bersifat nasional itu. Selain itu pendekatan kualitatif dan etnografi, yang biasanyadianggap tidak ilmiah karena tidak ada angka-angka statistiknya digunakan denganmenggunakan metode-metode yang baku, karena justru pendekatan kualitatif inilah yangilmiah dan obyektif dalam konteks-konteks masyarakat atau gejala-gejala dan masalahyang ditelitinya.
Dengan begitu antropologi Indonesia mempunyai ciri khas yang berbeda denganlainnya. Kajian-kajian yang bersifat kedalam. Maksudnya adalah terfokus padamengenali diri sendiri yakni masyarakat Indonesia yang sangat majemuk. Banyaknyapermasalahan-permasalahan yang ada di dalam masyarakat Indonesia yangmajamukseperti multikuturalisme, kemiskinan struktural, korupsi tanpa henti, konflik-onflik kepentingan golongan, kesenjangan sosial ekonomi, ketidakpastian pelaksanaanhukum, dan jurang generasi. Belum lagi fenomena global seperti liberalisasi ekonomi,seperti pada krisis ekonomi global yang melanda dunia dan berdampak kepada Indonesiasendiri memudarnya ideologi serta meningkatnya komunikasi lintas-batas negara sertabudaya inilah justru menjadi kajian penting antropologi Indonesia. hal ini dimaksudkansebagai usaha mencari solusi dari permasalahan tersebut dan sebagai dedikasi ilmuantropologi Indonesia dalam mendukung pembangunan yang bersifat nasional.
Berbeda dengan antropologi luar Indonesia yang lebih keluar. Negara duniaketiga menjadi subjek penelitian seiring perkembangan ilmu antropologi itu sendiri yangawal mulanya sebagi ilmu yang digunakan untuk melihat masyarakat-masyarakat di luarbarat yang dianggap “masyarakat primitive”

Menilai hasil kerja proyek melalui riset evaluasi.

Penelitian yang dilakukan oleh para antropolog harus berdasarkan observasi yang mendalam tentang keadaan masyarakat dan membuat suatu alternatif kebijakan terhadap masalah yang terjadi dengan mengetahui sektor-sektor dan unsur-unsur yang ada dalam masyarakat.
Kultur Dalam Orientasi Pembangunan
Antropologi mempelajari kultur dalam masyarakat. Kultur diwujudkan dengan ideational dan behavioral. Ideational membentuk perilaku yang khas dalam masyarakat dan behavioral melihat bagaimana tingkah laku yang berjalan dalam masyarakat. Kultur membentuk masyarakat dalam bertindak dan mempengaruhi bagaimana masyarakat ikut serta dalam pembanguan.
Koentjaraningrat pernah mengatakan istilah kebudayaan, sistem nilai budaya dan sikap mental adalah termasuk ke dalam konsep kultur, menurut aliran cultural developmentalism (2005:19). Penguasaan akan konsep kultur sesuatu yang mendasar keperluannya bagi antropologi. Antropolog mengenalkan keadaan dunia luar tanpa meninggalkan kultur yang ada dalam masyarakat dan mengatasi hambatan berupa adat istiadat dan sikap mental yang kolot, pranata-pranata sosial dan unsur-unsur kebudayaan tradisional, harus digeser disesuaikan dengan kultur kemajuan demi keperluan hidup masa kini.

Kebijakan pembangunan

Pembangunan dikonsepsikan sebagai usaha untuk kemajuan ekonomi yang berarti keluar dari kemiskinan. Pembangunan ekonomi harus melihat aspek kultural dalam melihat keanekaragaman masyarakat dalam sebuah negara. Pembangunan sebuah negara berbeda dengan pembangunan negara lain.
Pembangunan melihat dari pembangunan materi nan non-materi. Sosial budaya masyarakat harus dilihat apakah ikut menyebabkan kemiskinan dalam negara. Paradoks dan krisis pembangunan timbul dari kesalahan melihat kemiskinan yang dilihat dari budaya sebagai sama dengan kemiskinan material dan pertumbuhan produksi barang dianggap secara lebih baik untuk memenuhi kebutuhan dasar. Dalam kenyataannya proses pembangunan mengakibatkan air, tanah subur dan plasma nuftah langka (1997:17). Pembangunan juga harus melihat efek yang ditimbulkan, ide pembangunan bisa mengakibatkan gangguan dan kerusakan dalam lingkungan.
Saya setuju dengan pandangan Marx bahwa bangunan bawah yaitu sistem produksi dan distribusi sumber daya alam menentukan bangunan atas sistem sosial politik dan sistem budaya manusia. Kebijakan pembangunan harus melihat keadaan dalam masyarakat. Masyarakat sebagai modal dalam pembangunan. Masyarakat harus saling mendukung dalam pembangunan. Masyarakat menentukan keadaan sistem sosial dan keadaan pembangunan suatu negara.
Keberadaan bangunan bawah dimanfaatkan sebagai penghasil keuntungan dalam pembangunan. Bangunan bawah sebagai modal dalam pembangunan seperti yang dikatakan Fukuyama bahwa Ekonomi kapitalis yang sehat adalah sebuah ekonomi dimana terdapat cukup modal sosial dalam masyarakat bawah yang memungkinkan berjalannya berbagai bisnis, korporasi-korporasi dan semacamnya untuk mengorganisasi diri sendiri (2002: 517).
Saya membayangkan pembangunan sebagai sebuah pohon. Pemerintah tidak melihat akar yang bisa mendukung asupan untuk kekuatan batang pohon yang dapat menghasilkan daun dan buah dari sebuah kebijakan pembangunan. Masyarakat yang berada didaerah atau regional menjadi korban dalam kebijakan pembangunan. Pemerintah menetapkan program regional dengan menggabungkan tujuan pemerataan yang lebih luas dan keseimbangan regional. Sebagian besar kebijakan regional ditanding oleh program nasional yang memiliki kecendrungan yang mendorong pertumbuhan kota saja (1996:259).
Hal ini didukung dengan pendapat Marx “Kalian miskin bukan karena apa yang bisa dan tidak bisa kalian lakukan, bukan karena dosa warisan atau kehendak tuhan atau karena nasib buruk. Kalian miskin karena kondisi politik dan ekonomi yang buruk. Kondisi ini di sebut kapitalisme”(2003: 25). Pemerintah sebagai tempat ekonomi dan politik yang buruk. Kebijakan pembangunan hanya menguntungkan pertumbuhan pusat saja.
Pengenalan kebijakan dengan menggunakan teknologi dan pengenalan mode produksi pertanian modern yang dikenal dengan revolusi hijau oleh pemerintah, tidak bisa membangkitkan pertumbuhan pendapatan malah merusak sistem pertanian. Hal ini sesuai dengan pendapat Lyotard bahwa keinginan untuk makmur lebih dari keinginan untuk memperoleh pengetahuan yang awalnya memaksa teknologi menjadi bentuk perintah perbaikan kinerja dan realisasi produk (2004:96). Kebijakan yang dipaksakan sungguh tidak efisien dalam suatu pembangunan. Kegagalan menjadi sebuah peljaran untuk mencari cara yang baik dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan Pertanian Indonesia

Antropolog berperan dalam perencanaan pembangunan Indonesia. Antropolog dapat menerapkan pengetahuan yang dimiliki dengan melakukan penelitian dan proses analisis berperan dalam membantu pembuatan kebijakan sesuai dengan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat. Masalah perubahan sosial ekonomi, aspek ekologi, dinamika sosial budaya, hubungan antar masyarakat kota dan struktur sosial indonesia.
Pertanian merupakan bagian dari unit ekonomi yang penting di Indonesia. Indonesia di kenal dengan negara agararis. Julukan negara agraris bukan berarti Indonesia tidak mempunyai permasalahan dalam bidang agraria. Pertanian yang pada awalnya sebagai mode produksi subsisten berubah menjadi product untuk dijual dalam sistem pasar. Produksi pertanian bertujuan untuk memperoleh uang. Perubahan sosial yang terjadi dengan tidak adanya rasa kebersaman antara petani. Pemilik lahan sebagai orang yang berkuasa untuk menggerakkan buruh dengan sistem upah. Kebersamaan sebagai modal sosial semakin menghilang. Bukan hal yang aneh orang kelaparan di lumbung padi.
Antropologi dapat meihat permasalahan tersebut sebagai pembuat langkah kebijakan. Dalam buku Theories Of Development, Richard Feet dan Elaine Hartwick menerangkan tentang strategi dalam pertanian berpendapat “Progress in agriculture was thought to be essential for providing food and raw material, yealding saving and tax revenue, for development elsewhere in an economy, earning foreign exchange, and forming a market for industrial goods. intersectoral relations, between industry and and agriculture would determine the course of structural transformation in a developing economy (1999:44). Pertanian harus memajukan petani dalam memperoleh keuntungan dan mengakses kedalam sumber daya yang produktif.
Hasil surplus produksi pertanian yang meningkat harus dapat dialihkan pada golongan-golongan sosial yang mampu untuk mengubah surplus menjadi modal kerja untuk membangun dengan menginvestasikan dengan berhasil guna ke dalam usaha non-pertanian, sehingga diperoleh tabungan sebagai akumulasi modal (koenjaraningrat:1990)
Contoh aplikasi pembangunan pertanian: Garut sebagai daerah miskin. Garut memiliki lahan pertanian. Antropologi dapat berperan mengetahui keadaan apa yang menyebabkan Garut sebagai daerah miskin dan membuat perencanaan pembangunan Garut. Sukabumi sebagai lumbung padi tetapi terdapat bagian dari masyarakat yang tidak bisa beli beras. Antropologi dapat mencari tahu kenapa ada orang yang kelaparan di lumbung padi. Kedua permasalahan tersebut dapat dijadikan sebuah penelitian untuk dijadikan penentuan kebijakan guna pembangunan pada dua daerah itu pula.



















BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Antropologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk manusia dengan budayanya, atau juga berarti ilmu tentang manusia. Dalam antropologi diterangkan bagaimana hubungan manusia dengan budayanya dan apa pengaruhnya. Cakupan ilmu antropologi itu luas sekali, salah satunya antropologi kesehatan yang menerangkan tentang manusia, budaya, dan kesehatan sehingga kita dapat mengetahui kaitan antara budaya suatu masyarakat dengan kesehatan masyarakat itu sendiri.

B. SARAN
Setelah membaca makalah ini, penulis berharap pembaca lebih mendapatkan pengetahuan tentang antropologi, sehingga pembaca dapat mengetahui tentang pentingnya pengaruh antropologi terhadap suatu masyarakat, sehingga pembaca mendapatka pengetahuan tentang cara-cara meningkatkan derajat kesehatan. Akhirnya, semoga penyusunan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.










DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI Press,1990.
Lyotard, Jean-Francois, Posmoderinisme: krisis dan masa depan pengetahuan. Jakarta: Teraju, 2004.
Marzali, Amri, Antropologi Dan pembangunan indonesia. Jakarta: Kencana, 2005.
Coleman, Simon dan Helen Watson, Pengantar Antropologi (Jakarta: Nuansa, 2005)
Fedyani, Achmad Saifudin, Ph.D, Antropologi Kontemporer (Jakarta: Kencana, 2006)
Koentjaraningrat, Pengantar ilmu Antropologi (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1990)
Boas, F, Primitive art (New York: Dover, 1927)
Nash, M, Primitive and PeasentEconomic System (San Fransisco: Chandler Publishing Company, 1966)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar